Faktor Penyebab Sebambangan dalam Tradisi Masyarakat Lampung

wLampung - Budaya Sebambangan pada Masyarakat Lampung bukanlah hal baru karena tradisi ini sudah lumrah dijumpai dalam kehidupan bermasyarakat dan memang termuat dalam adat yakni "Manjau Khek Sebambangan". Pembahasan kita fokus pada Sebambangan.

Lampung sendiri memiliki dua yakni dialek A dan dialek O, begitu pula adat perkawinannya ada yang menggunakan adat Saibatin dan ada pula yang menggunakan adat Pepadun. Pada artikel sebelumnya sudah dibahas mengenai perbedaan keduanya.

Budaya sebambangan sering diasumsikan sebagai kawin lari, namun itu sangat berbeda dengan asumsi selama ini. Kawin lari adalah pelarian gadis oleh seorang laki-laki yang bertujuan menikah namun tanpa persetujuan orangtua, sedangkan sebambangan adalah dibawanya seorang gadis dari rumahnya baik itu malam hari maupun siang hari, namun yang sering terjadi adalah pada malam hari. Lalu gadis dibawa ke rumah si bujang hingga pada esok harinya keluarga si bujang memberi tahu kepada keluarga si gadis untuk hanya mengenai kelanjutan hubungan mereka.

Terkadaang solusi sebambangan dilakukan karena ada salah satu atau kedua keluarga tidak setuju degan hubungan mereka, sehingga jika melakukan sebambangan mau tidak mau pihak yang tidak setuju harus setuju karena ibarat kata nasi sudah menjadi bubur. Gadis bisa saja diambil lagi oleh pihak keluarga jika masih tidak bisa menerima, namun hal ini akan membuat si gadis akan semakin nekat karena merasa malu.

Jika akan melakukan sebambangan sebenarnya memiliki aturan tidak hanya mengambil anak orang lain tanpa ada tata cara. Berikut aturan tersebut:

- Gadis dilarikan oleh bujang, jauh atau dekatnya jarak sebambangan tetap bisa dilakukan. Sebenarnya ketika melakukan sebambangan si bujang dibantu oleh teman ata keluarganya secara rahasia, setelah itu gadis di bawa ke kepala rumah adat , namun banyak juga si gadis langsung di bawa ke rumah si bujang.

- Ada tanda. Tidak hanya sekedar membawa anak gadis, namun harus ada tanda yang ditinggalkan misalnya saja uang sepantasnya yang berasal dari si bujang dan surat yang berisi bahwasanya si gadis “mentudau” atau mengikuti laki-laki yang diinginkan.

- Gadis dilindungi, jika gadis sudah dibawa oleh si bujang maka si gadis dilindungi dan tidak boleh diganggu atau diambil oleh keluarga dari pihak perempuan.

- Adanya pemberitahuan, setelah si gadis di ambil maka dari pihak laki-laki akan memberitahukan bahwa anak gadis mereka telah dibawa oleh si A dari keluarga si A dari daerah A. Setelah adanya pemberitahuan maka akan ada tindak lanjut seperti menentukan tanggal pernikahan keduanya, hal ini harus disegerakan dan paling lama lama 7 hari atau 7 malam. (Foto referensi)

Iklan Atas Artikel

Iklan Tengah Artikel 1

Iklan Tengah Artikel 2

Iklan Bawah Artikel